PAGI ITU, di sebuah sudut Kampus B Universitas Airlangga Surabaya, ia beraktivitas biasa di Museum Antropologi. Berkemeja batik, lengan bajunya yang panjang dilipat. Biar lebih cekatan ketika bekerja, begitu katanya. Gerak tubuhnya lincah merapikan koleksi museum kampus negeri di Surabaya itu.
Namanya Ari Setiawan. Ia Arek Suroboyo. Aroma debu etalase, tulang-belulang replika manusia purba, dan catatan inventaris museum antropologi menjadi kesehariannya. Ari pekerja di musem itu. Ia berpenampilan rapi, tenang, tanpa gestur berlebih. Kemeja, celana panjang, sepatu tertutup seperti pekerja formal pada umumnya.
Ari memastikan semua tugas, dia jalankan dengan baik. Selesai. Sesekali ia menengok jam di pergelangan tangannya. Jarum jam siang itu berdetak lebih cepat, kata Ari. Ada janji yang harus ia tepati. Ia berpamitan dengan reka kerjanya. Ari melangkah keluar kampus. Motor dinyalakan. Jalanan Surabaya dilahap dengan satu tujuan.
“Aku mau ke Gedung pertunjukan Cak Durasim di Jalan Genteng Kali. Ada pertunjukan di sana,” ujarnya singkat.
Ari hadir bukan sebagai penonton, melainkan salah satu penampil di pageralan siang itu. Motor diparkir, Ari langsung melangkah menuju ruang ganti. Ruangan sudah ramai saat itu. Inilah ruangan di mana Ari memiliki dunia lain. Kemeja dilipat rapi, celana dilepas, berganti baju dan kain mengkilat.

Tangannya yang tadi memegang katalog koleksi museum kini sibuk meraih sumpel dada—dipasang hati-hati, disesuaikan dengan kostum. Ia bercermin lama. Rambut ditata. Gerakannya cekatan, tanpa canggung. Ini bukan eksperimen. Ini laku yang sudah bertahun-tahun ia jalani. Riasan wajah pelan-pelan membentuk karakter: perempuan ludruk.
Ari tetaplah laki-laki meski ia memainkan peran perempuan di atas panggung. Di atas panggung ludruk penuh cahaya, Ari adalah perempuan jelita yang jadi idola. Ia bahkan diperebutkan oleh para lelaki dalam perannya. Jika sebelumnya tubuh Ari yang lumayan kekar bergelut dengan koleksi musem, kini berbalik 180 derajat menjadi tubuh yang lembut gemulai.
“Yaa begini peran yang kerap saya jalani. Bekerja dan menjalani hidup sebagai laki-laki, namun di panggung harus berperan menjadi perempuan,” ungkap Ari enteng, nyaris tanpa beban.
Aura perempuan, teguh dan pekerja keras yang diperankan terpancar saat ia berdialog di atas panggung. Setiap geraknya, selalu ia maknai sebagai bagian dari bertahan hidup dan pergulatan menjadi diri sendiri. Jalan hidup yang ia lalui, keras bahkan terkadang melampaui gelak tawa penonton yang hadir di setiap pertunjukannya.

Jalan Panjang Mencintai Ludruk
Ari mengenal ludruk sejak duduk di bangku kelas 2 SMA, sekitar 2007 lalu. Awalnya bukan dari panggung ludruk, melainkan kegiatan ekstrakulikuler teater di sekolah. Pelatih teaternya kala itu ternyata memiliki grup ludruk remaja yang sempat vakum: Ludruk Remaja Marsudi Lara.
BACA JUGA: Doa Jawa dari Suara yang Pernah Luka
Grup itu hendak dihidupkan kembali. Murid-murid teater direkrut. Ari ikut, nyaris tanpa rencana besar. Dari teater ke ludruk, baginya bukan penyimpangan, melainkan perpanjangan. Dari sinilah jalan hidup dunia pertunjukan panggung berawal. Festival demi festival dijalani. Dari tingkat kecamata, kota hingga provinsi, grup mereka kerap menang.
“Sempat empat kali berturut-turut menjuarai lomba, tapi akhirnya harus distop pihak penyelenggara. Bukan kalah, tapi diminta memberi kesempatan pada yang lain,” katanya dengan bangga. Dari situ, mereka mulai dikenal Dinas Kebudayaan, komunitas budaya hingga para seniman. Undangan pentas pun berdatangan.
Latihan dilakukan di Tobong Ludruk Irama Budaya, Wonokromo, sebelum akhirnya pindah ke kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Tobong bukan sekadar tempat latihan, tapi ruang hidup. Di sanalah Ari semakin kecemplung lebih dalam.
“Awalnya memerankan tokoh laki-laki flamboyan, yang melambai-lambai. Lama-lama ketika sudah mau lulus SMA, saya makin sering ditawari peran perempuan. Buat saya ini sebuah tantangan,” aku alumni SMA Negeri 21 Surabaya ini.
Suatu hari, saat menonton adik-adik kelas latihan, pelatihnya menawari peran bedayan—pembuka pertunjukan sebelum tari remo. Peran singkat, tapi krusial. “Pasti wedhok,” kata pelatihnya. Ari mengangguk. Tantangan muncul bukan soal malu, melainkan soal bisa atau tidak mendalami peran itu.
“Justru pertanyaan di pikiran saya adalah teknis: bagaimana menghidupkan karakter? Apa saya bisa? Tapi ya balik tadi ini saya anggap tantangan yang harus saya taklukkan,” terangnya.
Di kamusnya tak ada kata risih bagi seorang Ari. Dunia ludruk profesional, tak ada istilah dimanja. Semua dilakukan sendiri karena ia tahu dunia ini bukanlah selebriti. Berdandan dilakukan sendiri. Kostum diurus sendiri. Kalau mau main, ya siap dengan semua konsekuensinya.
Memainkan peran sebagai perempuan, Ari dituntut harus total. Riasan, pakaian, gerak-gerik, gaya bicara sampai bentuk fisik. Salah satunya, busa tambahan untuk membentuk dadanya. Saat pertama kali dipasangi sumpel dada, Ari mengaku merasa biasa saja. “Nyaman aja sih. Malah sejak itu, keterusan,” tukas Ari yang diiringi tawa renyahnya.
Ari memilih jalur seni peran, bukan penyanyi, bukan pelawak semata. Ia nyebeng lakon, atau mendalami betul cerita, konflik, dan karakter yang ia perankan. Ia menikmati perannya sebagai perempuan-perempuan ludruk yang “ngeyel”, lucu, menggigit, bukan protagonis yang cengeng. Dari sanalah namanya semakin dikenal.
Tahun-tahun berikutnya, hidup Ari nyaris sepenuhnya dihabiskan di tobong. Ia yang paling muda. Tidur di tobong, pulang seminggu sekali. Tahun 2008 lulus SMA, 2009 masuk kuliah. Setahun penuh ia “nyemplung” di dunia ludruk. Belajar bukan dari buku, melainkan dari hidup bersama para seniman. Ia tak main-main.
Keluarganya? Orang tuanya sudah pindah ke luar pulau sejak ia SMA. Dengan sadar sepenuhnya ia memilih hidup sendiri tak mengikuti orangtuanya. Jalan hidup yang ia pilih adalah berkesenian, dunia panggung. “Setelah menjelaskan ke orangtua, mereka percaya dan mendukung pilihan saya,” tegas Ari.
Meski tak dilarang berkecimpung di ludruk, apalagi sang kakek juga seniman ludruk, sempat terbersit kekhawatiran dari sang ibu. Karena ayahnya dulu seorang pemain ludruk, ibunda Ari paham betul kerasnya hidup seniman panggung, terutama pemain perempuan ludruk yang kerap diasosiasikan dengan kehidupan transpuan.
Ibunya menangis, takut anaknya tak punya masa depan. Di tengah tangisan sang ibu, Ari berjanji sampai kapan pun ia tetap laki-laki dan tak akan pernah mengubah takdirnya. Ia berjanji pada ibunya tak akan menjalani operasi atau suntik payudara. Ia juga menunaikan janji tetap berkuliah hingga lulus.
BACA JUGA: Karena Kampung Ruang Seni yang Hidup
“Di hadapan orangtua saya juga berjanji tidak akan meninggalkan pendidikan. Hidup ludruk dan hidup formal akan saya pisahkan. Saya akan kuliah kemudia bekerja. Ludruk tetap dijalani sebagai jalan budaya yang saya pilih,” tegas Ari.
Ayahnya yang juga seorang seniman yakni pemusik orkes, lebih memilih diam dan pasrah. Sementara di keluarga besarnya, cibiran memang tak pernah diucapkan langsung. Dukungan, apalagi pujian atas karya maupun prestasinya tak pernah juga ditunjukkan.
Bahkan, sekedar menonton atau hadir di pentasnya, menurut Ari tak pernah dilakukan. Tapi dukungan justru datang dari keluarga kakeknya dari desa di Jember.
“Wong arek gak nyolong, gak opo-opo lah, laopo diseneni,” kata paman ibunya. Kalimat sederhana yang menjadi tameng menyejukkan sekaligus kekuatan buat Ari.
Di kampus, di lingkar pertemanan, Ari justru mendapatkan penerimaan. Statusnya sebagai seniman berdidikasi memberi tempat tersendiri. Ari yang berkuliah di jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlagga itu, dianggap sebagai pelestari budaya di kalangan kampus. Ludruk, paradoksnya, menjadi pelindung identitas.
Namun panggung tak selalu ramah. Dalam beberapa tahun terakhir, penolakan muncul, bukan dari penonton awam, tapi dari penyelenggara. Ada pengundang yang tak lagi mau mengundang ludruk dengan pemain lelaki berperan sebagai perempuan. Ada instansi pemerintah yang meminta agar “jangan pakai yang begitu”.
“Jujur, kalimat seperti itu melukai kami. Sebab, bukan datang dari orang yang tak paham, tapi dari mereka yang mengerti ludruk,” tuturnya.
Bagi Ari, ludruk memang tradisi silang peran. Laki-laki memerankan perempuan bukan penyimpangan, melainkan pakem. Penolakan itu seolah menggugat batasan seni ini. Ketika itu dipersoalkan atas nama moral atau stigma LGBT, yang terluka bukan hanya aktor, tapi kebudayaan itu sendiri.
Kini, tobong sudah tak ada. THR tinggal kenangan. Ludruk hidup dari undangan, dari tanggapan, dari sisa-sisa perhatian. Ari masih tampil, masih berganti kostum, masih memasang sumpel dada di ruang ganti yang senyap. Dari museum yang maskulin ke panggung yang cair, ia berjalan di dua dunia tanpa merasa harus memilih salah satu.

Baginya, ludruk hanya akan hidup jika tiga hal berjalan bersama: pemerintah yang peduli, seniman yang mau berinovasi, dan masyarakat yang mau mengenal. “Tak kenal maka tak sayang,” pungkasnya.
Apa yang dialami Ari di Surabaya memperlihatkan satu hal penting: tubuh laki-laki yang menghadirkan unsur perempuan, masih memiliki ruang hidup dalam kebudayaan, meski tidak sepenuhnya bebas dari stigma. Ludruk memberi konteks, legitimasi, bahkan perlindungan sosial. Ia dilihat sebagai seni, bukan semata identitas.
Tubuh itu adalah Bissu
Di wilayah lain di Indonesia, tepatnya di Bone, Sulawesi Selatan, ragam gender hadir di dunia spiritualitas masyarakatnya. Di sana, salah satu ragam gender itu memiliki peran sakaral. Sosoknya dibungkus kain adat, memegang badik, membaca doa-doa tua yang diwariskan lintas generasi.
Tidak ada sorak, tidak ada lampu panggung, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya kesenyapan, ritme alam, dan keyakinan bahwa kehidupan harus dijaga dengan laku spiritual. Mereka menyebutnya sebagai Bissu, pemimpin ritual suci dalam kepercayaan Bugis kuno.
Bissu dianggap sebagai perantara antara manusia dan dewata. Mereka dihormati sebagai sosok "gender kelima" yang melampaui biner laki-laki dan perempuan, menyatukan unsur laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh. Bukan laki-laki, bukan pula perempuan. Ia gender tersendiri.
Dalam kebudayaan Bugis, dunia tidak dibagi hanya menjadi laki-laki dan perempuan. Ada lima kategori gender: oroané, makunrai, calalai, calabai, dan Bissu. Di antara semuanya, Bissu menempati posisi paling sacral karena perantara antara manusia dan Yang Ilahi.
“Bissu itu bukan sekadar identitas gender. Mereka adalah komunitas spiritual yang menjalankan praktik keagamaan melalui pendekatan budaya,” ujar Fatma Utami Jauharoh, penyuluh agama yang mendampingi komunitas ini di Bone.
Namun di ruang publik modern, makna itu kerap tereduksi. Bissu disamakan dengan kategori yang tidak tepat, lalu ditempatkan dalam kerangka moral yang sempit. Kesalahpahaman itu kemudian menjelma menjadi stigma.
“Yang berkembang di masyarakat itu seringkali mencampuradukkan. Padahal ini dua hal berbeda—antara isu hak beragama dan isu gender non-mainstream,” tegas Fatma.
Sebagian masyarakat masih menghormati, tetapi menjaga jarak. Sebagian lain menganggapnya tidak lagi relevan dengan zaman. Dan di lapisan paling keras, ada yang melihat Bissu sebagai penyimpangan seksual dan identitas yang harus disingkirkan.
“Kalau dipetakan, ada yang sekadar menghormati, ada yang mendukung pelestarian, ada yang menganggap sudah tidak kontekstual, dan ada juga yang menolak karena dianggap menyalahi nilai agama,” jelasnya.
Di tengah tarik-menarik itu, negara tidak selalu hadir sebagai pelindung. Dalam beberapa kasus, negara justru menjadi bagian dari mekanisme yang mempersempit ruang hidup Bissu, meski tidak secara langsung melarang. Misalnya bentuk penolakan sosial pada acara-acara tertentu.
Peristiwa paling terasa terjadi ketika komunitas Bissu tidak dilibatkan dalam peringatan Hari Jadi Bone. Sebuah keputusan administratif yang membawa dampak simbolik besar: penghilangan peran mereka dari panggung resmi kebudayaan sekaligus melenyapkan mereka dari tradisi kuno yang mengakar dari generasi ke generasi.
Padahal secara historis, posisi mereka sangat penting. Bissu adalah penjaga pengetahuan, pemimpin ritus, dan simbol keseimbangan dalam kosmologi Bugis. Mereka bukan sekadar pelaku adat, tetapi juga penjaga nilai-nilai kehidupan. “Bissu itu justru cara seseorang mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan sebaliknya seperti yang sering disalahpahami,” kata Fatma.
Melihat situasi itu, pendekatan yang dilakukan tidak lagi cukup hanya melalui narasi budaya. Fatma bersama jejaringnya mencoba masuk melalui jalur moderasi beragama, sebuah strategi yang menggabungkan pendekatan kultural dan struktural sekaligus.
Advokasi dilakukan berlapis: dari audiensi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga tokoh agama. Bahkan forum diskusi khusus digelar dengan menghadirkan peneliti dari lembaga nasional untuk memberikan legitimasi akademik.
“Kalau hanya kami yang bicara, seringkali tidak didengar. Tapi ketika peneliti dari pusat hadir, perspektifnya jadi lebih diterima,” ujarnya.
Upaya itu perlahan membuka ruang dialog. Untuk pertama kalinya, tokoh-tokoh agama dari berbagai organisasi duduk bersama dengan komunitas Bissu dalam satu forum. Sebuah peristiwa yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan.
“Ketika mereka bertemu langsung, banyak yang baru sadar—ternyata ini bukan kelompok yang asing. Mereka bagian dari masyarakat itu sendiri,” kata Fatma.
Namun jalan menuju penerimaan masih panjang. Bahkan untuk menggelar forum yang menghadirkan Bissu, pengamanan dilakukan secara ketat. Kecurigaan tetap ada, bahkan dari aparat. “Kegiatan kami dijaga ketat, bahkan sampai belasan intel. Yang dikhawatirkan bukan kerusuhan, tapi keberadaan Bissu itu sendiri,” ujarnya.
Di balik semua itu, ada satu ironi yang sulit diabaikan. Ketika dunia modern mulai gelisah dengan krisis lingkungan, nilai-nilai yang dijaga Bissu justru menjadi semakin relevan. Dalam ritus-ritus adat mereka, hubungan manusia dengan alam selalu ditempatkan sebagai relasi etis.
Mata air dijaga, tanah dihormati, kehidupan dipahami sebagai sesuatu yang harus dirawat, bukan dieksploitasi. Namun suara itu kerap tenggelam oleh stigma yang lebih dulu melekat pada tubuh mereka.
“Masyarakat adat seperti Bissu ini justru penyeimbang. Mereka menjaga relasi antara manusia, alam, dan Tuhan—sesuatu yang sekarang mulai hilang di masyarakat modern,” jelas Fatma.
Hari ini, jumlah Bissu di Bone bahkan terus menyusut. Proses untuk menjadi Bissu tidak sederhana, panjang, kompleks, dan penuh laku spiritual. Hingga kini, hanya segelintir yang benar-benar mencapai tahap tertinggi sebagai “Puang Matoa Bissu”.
Tanpa dukungan yang kuat, bukan tidak mungkin tradisi ini perlahan hilang. Karena pada akhirnya, seperti yang terlihat dari Surabaya hingga Bone, persoalannya bukan semata tentang tubuh yang melampaui batas gender. Melainkan tentang bagaimana masyarakat dan negara memilih untuk memahami atau menghakimi sebuah warisan budaya.